Nama : RIsma Ayu Indah Feny
Nim : 223414011
Kelas : D3 MLM 2014
Economical Order Quantity Adalah jumlah
pembelian yang paling ekonomis (Economical Order Quantity = EOQ)
Definisi : jumlah setiap kali pembelian bahan
yang disertai biaya minimal = jumlah pembelian bahan yang paling ekonomis
EOQ terdiri dari :
1.
Biaya pemesanan
(ordering cost/set up cost)
Adalah semua biaya dari
persiapan pemesanan sampai barang yang dipesan dating
Sifat : konstan, tidak
tergantung pada jumlah barang yang dipesan
Biaya-biaya ini adalah :
a. biaya persiapan
pemesanan
b. biaya mengirim atau
menugaskan karyawan untuk melakukan pemesanan.
c. biaya saat penerimaan
bahan yang dipesan
d. biaya penyelesaian
pembayaran pemesanan.
2. Biaya Penyimpanan di
Gudang (Inventory C arrying Cost)
terdiri dari :
a.biaya sewa gudang
b.biaya pemeliharaan
bahan
c.biaya
asuransi bahan
d.biaya TK di gudang
e.biaya kerusakan bahan
baku
Pertentangan 2 hal :
Biaya pemesanan
menghendaki yang dipesan sebesar-besarnya agar biaya pemesanan minimal
sedangkan biaya penyimpanan menghendaki jumlah yang dipesan sekecil-kecilnya
agar menghemat biaya penyimpanan.
Rumus EOQ :
EOQ = 2 x R x S
P
Rumus EOQ :
EOQ = 2 x R x S
C
R = Kebutuhan barang
dalam suatu periode tertentu missal setahun
S = biaya pemesanan setiap
kali pesan
P = harga beli setiap unit
barang
I = Biaya penyimpanan yang
dinyatakan dalam prosentase dari nilai rata-rata persediaan barang yang
disimpan
C = Biaya penyimpanan
tiap unit barang yang disimpan (dalam rupiah)
SS = Safety Stok adalah
Persediaan Pengaman
ROP = Re Order Point adalah
titik dimana harus dilakukan pemesanan kembali
Lead Time (LT) atau tenggang waktu
adalah waktu yang dibutuhkan sejak memesan barang sampai barang yang dipesan
datang.
Contoh soal :
Perusahaan x membutuhkan bahan mentah karet sebanyak 6.400
unit/tahun ( 1 tahun = 320 hari) dengan harga Rp.50 setiap unit
Dalam rangka pembelia tersebut dibutuhkan biaya-biaya sbb:
-biaya pengiriman pesanan
=Rp.10/1 kali pesan
-biaya administrasi =
Rp.20/1 kali pesan
-biaya penyelesaian
pemesanan Rp 20 / 1 kali pesan
-biaya penyimpanan di
gudang = Rp. 1 /unit / tahun
Pertanyaan :
1. tentukan EOQ
2. ROP jika Procuremen Lead
Time (PLT) selama 6 hari.
3. Gambarkan grafik EOQ, ROP
dan SS jika SS ditentukan 500 unit.
Jawab :
Diket :
R = 6.400 unit
S = 10 + 20 + 20 = Rp. 50
C = Rp. 1
a.
Rumus EOQ :
EOQ = 2 x R x S
C
EOQ = 2 x 6.400 x 50
1
=
800 unit
1.
Penggunaan selama 1
tahun = 6.400 unit
Penggunaan selama 1 hari = 6.400/320 = 20 unit
Penggunaan selama lead time = 20 x 6 = 120
unit
Safety stock = 500
ROP = PLT + SS
ROP = 120 x 500 = 620 unit
2.
Frekuensi pembelian 1
tahun =
: 800 = 8 kali
atau 320 hr/8 = 40 hari sekali.
A. Pengertian
Persediaan
Persediaan adalah bahan atau barang yang
disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk
digunakan dalam proses produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, atau
untuk suku cadang dari peralatan atau mesin. Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan
pembantu, barang dalam proses, barang jadi ataupun suku cadang.
Sebagai salah satu asset
penting dalam perusahaan – karena biasanya mempunyai nilai yang cukup besar
serta mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya biaya operasi – perencanaan
dan pengendalian persediaan merupakan salah satu kegiatan penting untuk
mendapat perhatian khusus dari manajemen perusahaan.
B. Fungsi Persediaan
Beberapa fungsi penting
persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan, yaitu :
1. Menghilangkan resiko
keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang yang dibutuhkan perusahaan.
2. Menghilangkan resiko jika
material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3. Menghilangkan resiko
terhadap kenaikan harga barang secara musiman atau inflasi
4. Untuk menyimpan bahan
baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak akan kesulitan
jika bahan itu tidak tersedia di pasaran.
C. Klasifikasi ABC dalam Persediaan
Pengendalian persediaan
dapat dilakukan dalam berbagai cara, antara lain dengan menggunakan analisis
nilai persediaan. Dalam analisis ini, persediaan dibedakan berdasarkan nilai
investasi yang terpakai dalam satu periode. Biasanya, persediaan dibedakan
dalam tiga kelas, yaitu A, B, dan C berdasarkan atas nilai persediaan. Yang
dimaksud dengan nilai dalam klasifikasi ABC bukan harga persediaan per unit,
melainkan volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode (biasanya satu
tahun) dikalikan dengan harga per unit.
Kriteria masing-masing
kelas dalam klasifikasi ABC, sebagai berikut :
1. Kelas A – Persediaan yang
memiliki volume tahunan rupiah yang tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 70% dari
total persediaan, meskipun jumlahnya hanya sedikit, biasa hanya 20% dari
seluruh item. Persediaan yang termasuk dalam kelas ini memerlukan perhatian yang
tinggi dalam pengadaannya karena dalam kelas ini memerlukan perhatian tinggi
dalam pengadaannya karena berdampak biaya yang tinggi. Pengawasan harus dilakukan secara intensif.
2. Kelas B – Persediaan
dengan nilai volume tahunan rupiah yang menengah. Kelompok ini mewakili sekitar
20% dari total nilai persediaan tahunan, dan sekitar 30% dari jumlah item. Di sini diperlukan teknik pengendalian yang
moderat.
3. Kelas C – Barang yang nilai volume tahunan
rupiahnya rendah, yang mewakili sekitar 10% dari total nilai persediaan, tetapi
terdiri dari sekitar 50% dari jumlah item persediaan.Di sini diperlukan teknik
pengendalian yang sederhana, pengendalian hanya dilakukan sesekali saja.
D. Biaya-Biaya dalam Persediaan
Unsur-unsur biaya yang
terdapat dalam persediaan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
1.Biaya Pemesanan
Biaya pemesanan (ordering cost, procurement costs) adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan
kegiatan pemesanan bahan/barang, sejak dari penempatan pemesanan sampai
tersedianya barang di gudang. Biaya pemesanan ini meliputi semua biaya administrasi dan
penempatan order, biaya pemilihan vendor/pemasok, biaya pengangkutan dan
bongkar muat, biaya penerimaan dan pemeriksaan barang
2.Biaya Penyimpanan
Biaya penyimpanan (carrying costs, holding costs) adalah biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan
diadakannya persediaan barang. Yang termasuk biaya ini, antara lain biaya sewa
gudang, biaya administrasi pergudangan, gaji pelaksana pergudangan, biaya
listrik, biaya modal yang tertanam dalam persediaan, biaya asuransi ataupun
biaya kerusakan, kehilangan atau penyusutan barang selama penyimpanan.
3.Biaya Kekurangan
Persediaan
Biaya kekurangan persediaan (shortage costs, stockout costs) adalah biaya yang timbul sebagai akibat tidak
tersedianya barang pada waktu diperlukan. Biaya kekurangan persediaan ini pada
dasarnya bukan biaya nyata (riil), melainkan berupa biaya kehilangan
kesempatan. Dalam perusahaan manufaktur, biaya ini merupakan biaya kesempatan
yang timbul misalnya karena terhentinya proses produksi sebagai akibat tidak
adanya bahan yang diproses, yang antara lain meliputi biaya kehilangan waktu
produksi bagi mesin dan karyawan.
Biaya kekurangan persediaan
sulit untuk diukur dan sering hanya diperkirakan besarnya secara subyektif.
Namun, tidak berarti biaya kekurangan persediaan itu tidak bias dihitung. Tabel
3 berikut ini merupakan suatu contoh bagaimana menghitung biaya kekurangan
persediaan. Pendekatan yang dilakukan dengan mencari rata-rata kerugian yang
timbul akibat tidak tersedianya persediaan dan probabilitas terjadinya untuk
setiap kasus
E. Model-Model Persediaan
Untuk memudahkan dalam
pengambilan keputusan, telah dikembangkan beberapa model dalam manajemen
persediaan :
1. Model Persediaan Kuantitas Pesanan Ekonomis
Kuantitas pesanan ekonomis (economics order quantity/EOQ) merupakan salah satu model klasik,
diperkenalkan oleh FW Harris pada tahun 1914, tetapi paling banyak dikenal
dalam teknik pengendalian persediaan. EOQ banyak dipergunakan sampai saat ini
karena mudah dalam penggunaannya, meskipun dalam penerapannya harus memperhatikan
asumsi yang dipakai.
Asumsi tersebut sebagai berikut :
§ Barang yang dipesan dan
disimpan hanya satu macam
§ Kebutuhan / permintaan
barang diketahui dan konstan
§ Biaya pemesanan dan biaya
penyimpanan diketahui dan konstan
§ Barang yang dipesan
diterima dalam satu kelompok
§ Harga barang tetap dan
tidak tergantung dari jumlah yang dibeli
§ Waktu tenggang (lead time) diketahui dan konstan
Pengendalian persediaan
dapat dilakukan dalam berbagai cara, antara lain dengan menggunakan analisis
nilai persediaan. Dalam analisis ini, persediaan dibedakan berdasarkan nilai
investasi yang terpakai dalam satu periode. Biasanya, persediaan dibedakan
dalam tiga kelas, yaitu A, B, dan C berdasarkan atas nilai persediaan. Yang
dimaksud dengan nilai dalam klasifikasi ABC bukan harga persediaan per unit,
melainkan volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode (biasanya satu
tahun) dikalikan dengan harga per unit.
Kriteria masing-masing
kelas dalam klasifikasi ABC, sebagai berikut :
1. Kelas A – Persediaan yang
memiliki volume tahunan rupiah yang tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 70% dari
total persediaan, meskipun jumlahnya hanya sedikit, biasa hanya 20% dari
seluruh item. Persediaan yang termasuk dalam kelas ini memerlukan perhatian
yang tinggi dalam pengadaannya karena dalam kelas ini memerlukan perhatian
tinggi dalam pengadaannya karena berdampak biaya yang tinggi. Pengawasan harus dilakukan secara intensif.
2. Kelas B – Persediaan
dengan nilai volume tahunan rupiah yang menengah. Kelompok ini mewakili sekitar
20% dari total nilai persediaan tahunan, dan sekitar 30% dari jumlah item. Di sini diperlukan teknik pengendalian yang
moderat.
3. Kelas C – Barang yang nilai volume tahunan
rupiahnya rendah, yang mewakili sekitar 10% dari total nilai persediaan, tetapi
terdiri dari sekitar 50% dari jumlah item persediaan.Di sini diperlukan teknik
pengendalian yang sederhana, pengendalian hanya dilakukan sesekali saja.